Posting Lalu

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2011

AKHIR PUTIH ABU-ABU

Akhir putih abu-abuku, ku lukiskan sebuah kisah sejati
Kisah suka duka bersama
Kisah kegilaan bersama
Kisah anak manusia, yang baru menatap dunia

Akhir putih abu-abuku, ku langkahkan kaki dengan pasti
Menapak jalan persahabatan kian sejati
Cerita rumput hijau yang baru bersemi
Menerjang lautan tanpa tepi
Cerita tragedi, yang tak mungkin terlewati

Akhir putih abu-abuku, ku temukan jiwa kepemimpinanku
Ku langkahkan kakiku, bersama sahabat yang temaniku
Menggerus rezim yang tak lurus dalam otakku
Menggeliat dalam kalbu
Merayap dalam lindungan tanahku

Akhir putih abu-abuku, ku temukan cintaku
Ku bisikkan lafadz cintaku pada si dia
Ku rajut alunan bunga asmara bersama bidadariku
Ku langkahkan jejak cinta bersama permaisuri hatiku
Ku harap dan ku yakin, kaulah cinta sejatiku

Akhir putih abu-abuku, jalan menuju cita-cita terbuka
Segenggam emas, ku raih dan ku jaga
Menuju akhir perjalanan kisah hidupku
Menentang setiap denyut nafasku

Akhir putih abu-abuku, masa terindah dalam derap langkahku
Satu cita yang takkan berubah
Sebuah pengabdian dari seorang hamba
Ke dalam ridho Sang Pencipta

Rabu, 02 Maret 2011

Yang ini sudah ada judulnya...




BUAT PERMAISURIKU
Just For You

Merapat dihati, berlabuh sebarkan dentuman-dentuman nada simfoni
Urat nafas terengah, menyelam ke palung kasih sayangmu, terlena dalam buaian cinta sejati
Hilir pasang air di pesisir, tersiram akan rindu yang haus, terhanyut akan rindu yang tak bertepi
Aku hargai tulusnya kasih sayangmu, secerah mentari terbit di ufuk timur, senandung bunga mekar di kebun cinta
M… Sebuah huruf awal namamu dan namaku, menorehkan tinta emas dilembaran putih, setulus kasih dan sayangmu padaku
Memandang indahnya senyummu, buat ku terbuai dalam selimut cintamu
Awal dari sebuah kisah, berselimut cinta yang tulus dan suci, berisikan arti sebuah pengorbanan
Dik, tahukah kau siapa diriku ??? Aku terkadang lupa siapa diriku, ku masih tak kuasa menahan jilatan iblis, dan aku takut akan diriku yang lalu. Tapi itulah aku, ku kan tetap berpegang pada tali Ilahi

Hatimu dan hatiku, jagalah selalu. Tetaplah jadi permaisuriku, duhai bidadariku
Aku tak mau jauh darimu, kau kan ada dalam sanubariku, meski benteng melintang antaramu dan aku
Selalu ingatlah Dia, Yang Maha Pencipta lagi Maha Segalanya. Jadikanlah kami ya Allah, sebagai hamba-hamba-Mu yang bertawakkal
Bidadariku, tetaplah seperti itu
Inginku berikan cinta yang tulus dan suci untukmu. Cinta untuk seorang permaisuri, just for you










Doa Untuk Ibu dan Bapak

Kian ranum bulan menyapa
Dingin, sepi… cicak pun tak bersua
Terpaku pada surga kecil
Tangisan fitrah bayi mungil

Senyum terlukis dari bibir ayahanda
Terselamatkan dua buah cintanya
Maut pun terlampaui
Inilah cinta sejati

Kian kokoh kaki mungil itu
Menghentak penjuru bumi
Tangis, tawa, senyum, resah… kian jadi satu
Menyertai ubun buah hati

Maafkan aku… Ibu, Bapak
Ku jadikan tawamu adalah tangismu
Senyummu adalah sedihmu
Bahagiamu adalah susahmu

Tersentak hatimu
Oleh perilakuku
Lebih kasar dari bebatuan
Lebih keras dari karang

Maafkan aku… Ibu, Bapak
Lembaran baru kini terbuka
Gulungan lembaran  hitam ini,
Kan ku pendam ke dasar bumi

Ya Allah… Ya Rahman… Ya Rahim…
Berilah maghfirah-Mu untuk mereka
Berilah balasan atas kebaikan mereka
Sayangilah mereka, Ya Rahim…

Jikalau kesalahanku terlampau besar
Izinkanlah mereka memintakan maghfirah-Mu untunkku
Ya Rabbi… persatukan kami dalam surga-Mu bersama orang-orang yang kami cintai
Untaian doa yang terucap dalam panjang sujud, doaku untukmu… Ibu dan Bapakku


Jumat, 04 Februari 2011

Emm.. apa ya judulnya ?

Menyepi mentari di ufuk barat
Untaian kata yang terucap, saling beradu
Hamparan awan kian memerah, kian lama kian malu
Aku tata dan ku rajut
Mahligai pulau kita
Mahligai ufuk sore
Aku ingkar pada setiap mata
Dan aku munafik pada setiap kata

Hiruk tawa canda kian terasa
Aku… mulanya tak terasa
Separuh jiwa telah terjaga
Bersama senyum yang terlukis
Inilah cinta… cinta di ufuk sore


Kamis, 02 Desember 2010

Hanya Kepada-Mu


Menangis hatiku, tercurah tak bersisa
Usapan sehelai kain basah, menyepi diantara keindahan
Hirup pikuk hati ini, ku hirup serpihan kaca menuju jiwaku, tak bergeming walau inginku jatuh
Api syeitan membakar mata hati, menetes dan meresap dalam jiwaku
Mentari jiwa terangi hingga sudut kehidupanku
Miris hati ini teringat akan hal itu, ku rajut dan ku rajut hingga menjadi kain yang kokoh
Aku… pantaskah diriku ini, berlumur dosa bermandikan air yang hina
Demi nama-Mu aku berserah diri, tersujud hatiku dibawah tiang rumah-Mu, menanti cahaya ampunan-Mu

Hidayah-Mu yang menarik jiwaku, bermandikan air jernih membersihkan tinta yang mencoret keyakinanku
Allahu akbar… tiada yang berhak disembah melainkan Engkau
Surga-Mu adalah janji-Mu yang terindah, tersujud jiwaku diatas sajadah ini
Bergeming bibirku menyebut asma-Mu, ya Allah…
Izinkanku menghuni surga-Mu, kan ku ganti baju hitam dengan baju putih. Allahu rabbi, terimalah tobat hamba-Mu, wahai rabbul ‘alamin

Sabtu, 04 September 2010

Berawal Dari Huruf Namaku


Datang Cahaya Kebenaran
Oleh: Muhammad Hasbi

Malam gelap tanpa ada cahaya, hanya gerombolan awan hitam
Udaranya menusuk hingga tulang
Hamparan angin berhembus
Adakah yang melindungi?
Matahari terbit seperti datangnya pencerahan
Mulai muncul cahaya islam, dalam benak orang yang gelap hatinya
Ajaran-ajaranya sangat baik
Datang pertolongan Allah untuknya

Hari yang baru telah tiba
Allah memberikan syafaat kepadanya
Sampailah cahaya iman kepadanya
Beribadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada sesama
Iman... itulah dia!

Ku Ingin Kau Ada Disini
Oleh: Muhammad Hasbi

Melihatmu, jantungku berdetak bagai derasnya ombak. Bagai angin terus bergemuruh saat badai.
Ujung bumi kan terus ku kejar, namun aku tak tau apa yang harus ku lakukan, saat itulah ku temukan dirimu...!
Hitam pekat noda tinta ini, terus aku bersihkan. Namun semakin lama tak mau memudar. Hingga ku putuskan tuk disini menunggumu.
Ada kata yang tak bisa aku ucapkan saat jumpa denganmu, mungkin aku seperti orang bisu, yang kehilangan lidah saat berkata.
Mentari muncul diantara himpitan awan hitam, mulai meresap cahaya dimata hatiku. Aku bulatkan tekad tuk berubah, yang dulu buruk menjadi lebih baik
Menatap wajahmu, aku tak bisa. Itu hanya akan menambah deretan catatan hitam untuk diriku. Karena ini belum saatnya bagi kita
Aku bagai burung dalam sangkar, yang belum bisa terbang dengan sayapku sendiri. Aku masih perlu bimbingan tuk lurus dalam jalan Ilahi.
Dik... maukah kau disini menemaniku, mendukungku, dan mendo’akanku

Hingga sampai saatnya bagi kita nanti, seperti rembulan yang terus ditemani bintang
Aku hanya manusia biasa yang tak sempurna, aku membutuhkanmu saat sedih atau senang.
Sayangnya... sekarang belum saatnya. Ku kan tunggu saat fajar mulai menyapa hingga mentari mulai redup cahayanya.
Bisakah kita akan terus bersama. Seperti air dan gula saat bersama serasa manis hidup ini
Impianmu dan impianku, kan ku kunci dalam sebuah kotak yang tertulis cinta suci.

 Angan-Angan Yang Tersisih
Oleh: Muhammad Hasbi

Mungkin ini, benih yang kau tabur, dan kau jaga hingga tumbuh tinggi. 
Uap-uap air semakin hilang, tanpa kau sadari itu akan menjadi semakin besar. 
Hamparan awan putih menjauh, sengatan sang mentari membuatmu lemah 
Angin terus menggodamu, tak pernah henti siang atau malam 
Mentari trus memperhatikanmu, menunggumu hingga kau jatuh 
Malam berganti siang, semakin lama engkau semakin lemah, semakin tinggi semakin rapuh akar-akarmu
Antara penderitaan dan keteguhan, daunmu semakin lama banyak yang gugur, namun kau terus naik tanpa memperhatikan akarmu
Dari sinilah aku duduk, memperhatikanmu, memahamimu, namun aku disini menentangmu

Harapanmu semakin tinggi, harapan untuk menjadi tanaman yang kuat kau angankan, tetapi kau lupa akan sesuatu?
Akar-akarmu semakin rapuh, dan kau tak tau akan hal itu!
Seperti itulah kondisimu sekarang, hai kelopak bunga kau tak lihat akar-akarmu?
Bahkan bencana seperti ini belum menyadarkanmu, wahai bapak pemimpin negeri, tahukah kau betapa mirisnya pendidikan putra putrimu di pojok negeri ini.
Ingin kau menjadi lebih kuat, namun kau lupa tempat asal kau berada, hanya jurang pemisah yang membuatmu jauh dari mereka!